Sabtu, November 29, 2008

Curhatku Hari Ini...

Hari yang aneh, buat gue. Sebenernya gue males banget ke kampus, kalo bukan nyari bahan buat tugas besok Senin dan janjian ma temen gue. Mulailah gue berpetualang. Nyari warnet yang buka di deket kampus gue. Pertama, ke warnet MIPA. Dooh, kok tumben tutup ya? truz gue pindah ke SMARTnet. Coz gue masi nyimpen "tabungan" di sana. Lhah, ketipu lagi. Ternyata lagi dibenerin. Gue naik angkot menuju gang Cempaka. Ke NurIstiNet. Alhamdulillah, buka dan gue bisa nge-net.

Tapi, ga berapa lama (sekitar 5 menitan) mas OP-nya bilang, "mbak koneksinya putus.."
Dooh, mulai berasa ilfil aja gue. Akhirnya gue akhiri petualang gue di dunia maya. Pas gue mau bayar billingnya, ada cowok yang mo nge-print en mo bayar juga. Tadinya waktu dia ngeliatin gue sekilas, gue cuekin ajah. Bukan bermaksud geer. Biasa aja lah. Gue juga sempet ngeliat ke dia en memastikan kalo gue ga kenal dia dan dia (kayaknya) bukan temen gue. Eh, tapi waktu gue mo bayar, dia ngliatin gue lagi! Dengan pandangan dari atas ke bawah. Pandangan tajam. Dan feeling preman gue mulai beraksi (alias mulai pasang kuda-kuda). Jangan-jangan ni cowok copet ato mo kurang ajar neeh??? Awas aja, kalo dia mo ngrasain tonjokan gue, batin gue.

Tapi, waktu gue keluar, dan dia duduk di deket jendela yang menghadap keluar (ke arah gue), dia masih ngliatin gue. Ini cowok maksudnya apa siih? bikin gue tambah bingung aja! Dan bikin tambah emosi juga, jadinya. Kalo emang ngerasa kenal gue, bilang langsung, nape?! Ato kalo mo kenalan, kenapa ga ngomong aje! Pake tu mata jelalatan ngliatin gue dengan ga sopannya!

Mo gue samperin, tapi keburu temen gue telepon. Dia udah ada di tempat kita janjian. Ya udah deeh, gue anggep angin lalu aja. Walaupun tetep dongkol aja sampe sekarang :P

Keprihatinan Terhadap Dunia Anak

Kayaknya judul postingan ini terlalu serius ya? Tapi sebetulnya kita (tepatnya saya dan teman saya yang notabene mahasiswa & yang telah berkeluarga) merasa prihatin dengan dunia anak belakangan ini. Masih ingat dengan cerita pernikahan seorang pria paruh baya dengan gadis di bawah umur yang menggemparkan kota Semarang? Sebenarnya saya tidak begitu mengikuti perjalanan kasus tersebut. Hanya, saat membaca sebuah harian yang cukup terkenal di kota Semarang, saya lumayan terkejut juga. Seorang anak berumur kurang lebih 14 tahun sudah mengerti tentang arti pentingnya material (harta kekayaan) dibanding masa depannya sendiri. Karena dalam pemberitaan tersebut, dikatakan dia (sang calon istri yang masih di bawah umur) menangis dan tidak ingin berpisah dengan calon suaminya (atau sudah menjadi suami?) dengan alasan, dia sudah dijanjikan akan mendapat jatah sebuah mobil eksklusif dan sebuah perusahaan. Belum lagi harta kekayaan dalam bentuk lain. Lagi-lagi ironis. Entah siapa yang harus disalahkan. Bahkan bujukan-bujukan dari Psikolog favorit saya, Kak Seto tidak mampu membuka mata hatinya. Baru, setelah Kak Seto, membujuk untuk kesekian kalinya dan menjelaskan UU tentang Perkawinan dan sanksi yang akan didapatnya bila tetap menjadi istri pengusaha kaya tersebut, dia terperanjat dan menangis terguguk. Dan kemudian, dia baru mau dipisahkan dengan syarat hanya dipisahkan sampai dia berusia 17 tahun.

Belum lagi game-game di komputer yang saat ini sedang marak. Teman saya pernah dilapori anaknya tentang game baru yang dia dapat dari temannya. Teman saya (yang telah menjadi ayah) benar-benar syok saat tau game “seru” yang dimaksud sang anak. Padahal anaknya masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Teman saya mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami sang anak, walaupun dia sendiri sempat merasa kesulitan untuk menjelskan agar sang anak benar-benar mengerti dan tidak memainkan atau tidak menerima sembarang mainan dari temannya tanpa sepengetahuannya.

Ya, itu baru beberapa contoh kasus yang memprihatinkan dalam dunia anak. Kasus yang lainnya adalah tayangan televisi. Bukannya saya terlalu nasionalis atau memandang mereka tidak berhak melakukan itu. Hanya saja, saya merasa mereka belum pantas mereka melakukan itu. Dari contoh kecil saja. Misalnya, tayangan (lagi-lagi acara televisi yang tidak mendidik) reality show untuk penyanyi cilik yang berbakat. Ga sengaja melihat acara tersebut. Dan hati kecil saya jadi trenyuh, rasanya. Apakah anak-anak saya kelak juga akan seperti itu? Meniru artis dewasa, bahkan lagu untuk usia dewasa pun bisa mereka bawakan. Kalau yang menyanyi anak-anak remaja, itu sudah biasa. Anak-anak remaja sudah mengalami masa-masa pubertas atau paling tidak mereka sudah sedikit tau apa makna lagu itu. Tapi anak-anak? Yang usianya lebih banyak masih TK atau SD? Bukannya senang mendengar mereka menyanyi, saya justru merasa prihatin.

Kemana ya lagu anak-anak jaman dulu yang sering saya nyanyikan? Seperti lagu Kelinciku, Pelangiku, Kasih Ibu, Becak, dsb. Saya malah jadi kangen pengen dengar lagu itu lagi dinyanyikan di televisi. Tapi, ada ga ya, acara televisi yang mau menayangkan lagu-lagu tersebut?

Mahalnya Kesehatan Kita

“Sekarang kalo mau makan atau minum harus hati-hati ya? Kalo ga mau terserang berbagai jenis penyakit..”

Kata teman saya menguatkan pendapat saya tentang makanan dan minuman yang beredar luas, baru-baru ini. Dari makanan bermerek hingga makanan yang tidak bermerek. Jadi teringat dengan berita sore di trans tv beberapa waktu lalu tentang manisan buah di kawasan Jabodetabek dan Jawa Barat yang mengandung pengawet berbahaya. Bahkan ada pula yang mengandung formalin.

Minggu lalu, saya juga melihat berita di televisi tentang pembuatan makanan siap saji (bugget, tempura, sosis) yang nyammy dan banyak digemari anak-anak, ternyata ada pedagang ilegal yang membuatnya dari bangkai ayam/ikan busuk! Dan tentunya agar terlihat menarik, diberi pengawet semau mereka dan zat pewarna yang kagi-lagi.. takarannya juga semau mereka. Ngeri! Mereka umumnya memasarkan “hasil kreasi”nya pada penjual yang biasa manggal di depan SD atau TK. Pantas saja, sekarang banyak anak-anak yang terserang penyakit yang mematikan dan bermunculan penyakit-penyakit baru di indonesia. Mungkin salah satu penyebabnya karena ulah para oknum pedagang ilagal ini.

Mau jadi apa generasi muda kita, bila dijejali dengan berbagai jenis makanan-minuman berbahaya tersebut. Salah satu teman saya yang telah mempunyai anak (sekitar usia balita-SD) berusaha mengontrol agar jangan sampai buah hatinya mengkonsumsi makanan/minuman yang tidak bertanggung jawab tersebut (dalam artian tidak diketahui kadar yang terkandung dalam makanan/minuman tersebut). Ada pula yang mulai mengikuti kursus masak kilat agar bisa membuatkan cemilan sehat untuk keluarganya demi kesehatan yang mahal bagi keluarganya. Orang tua sekarang memang dituntut untuk lebih waspada dalam memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh buah hatinya. Tentunya, peran ayah dan ibu-nya lah yang paling penting dalam menjaga asupan makanan buah hatinya, agar tidak menyentuh makanan/minuman ilegal yang banyak beredar di pasaran.

Lagi-Lagi.. Chrisye.. I Luph U..

aku termenung di bawah mentari
di antara megahnya alam ini
menikmati indahnya KasihMu
kurasakan damainya hatiku
sabdaMu bagai air yang mengalir
basahi panas terik di hatiku
menerangi semua jalanku
kurasakan tentramnya hatiku

jangan biarkan damai ini pergi
jangan biarkan semuanya berlalu
hanya padaMu Tuhan
tempatku berteduh
dari semua kepalsuan dunia

bila kujauh dari DiriMu
akan kutempuh semua perjalanan
agar selalu ada dekatMu
biar kurasakan kasihMu

Lagu ini lumayan menenangkan suasana hati saya beberapa hari lalu yang sempat down, kacau sampai libur nge-blog. Lagu ini berusaha menyadarkan saya. Sesuatu apapun dan seberat apapun yang terjadi dengan saya, saya masih punya Dia. Dan apapun cobaan yang Dia berikan kepada saya akhir-akhir ini merupakan suatu bentuk perhatianNya kepada saya. Dia pasti punya rencana lain untuk saya, yang saya sendiri tidak tau. Semoga semuanya baik untuk saya.

Seperti kata sahabat saya, “mungkin ini salah satu cara Allah menyayangi kamu. Ini artinya Allah masih sayang kamu.. “

*setelah dua hari dua malam menangis terguguk...*

Selasa, November 25, 2008

Senin Kemarin..

Dimulai dari :
pk. 3.00 : belajar buat MID AKM 2.. Pusiiing bin puyeeeeng !
pk. 5.00 : tiduran bentar.. Mulai pusing tuing-tuing..
(takutnya vertigo-nya kumat lagih)
pk. 5.30 : mandi kilat-sholat-beberes, prepare buat seharian di kampus
pk. 6.00 : berangkat ke kampus
pk. 7.30 : sampe kampus
(ngebut!cz jalanan lumayan sepi&agak2 gerimis. En gi males pake jas ujan :P)
pk. 7.00 : akhirnya ujian, padahal janjinya mo ujian jam 1/2 7 :P
pk. 8.45 : selesai ujian. Menuju ke auditorium buat ikut Kuliah Umum ttg Ekonomi
pk. 12.55 : selesai Kuliah Umum (semnas), ke kantin MIPA.
Maksi ngrangkep makan pagi. Nelangsa banget di auditorium ga
kebagian snack, cz katanya banyak "penyusup" yang dapet snack :(
(ooh.kasian cacing2ku. Ikutan nelangsa.Baru nyadar pula kalo ga bawa dompet! OMG!)
pk. 13.45 : di sms temen. Kuliah ekonometrika akhirnya kosong. bete.
akhirnya ke bank. transfer duit bisnis.
pk. 14.10 : keluar dari bank, ke kos temen2. jadi rentenir.
nagihin duit soalnya ga bawa duit se-peser pun..:P
pk. 15.00 : akhirnya nge-net sekalian nyari-nyari info tentang bahan-bahan buat skripsi (ngrampok duit dari bisnis sampingan :P)
pk. 15.50 : akhirnya pulang.

Capeeek... Jadi bobo' gasik deeh.. Jam 22. 45 udah bobo'. Soalnya kemaren cuma bobo' 2 jam ajah :P

Mimpi(ku) yang Aneh..

Akhir-akhir ini, entah mengapa berturut-turut bermimpi aneh. Aneh sekali! Dan yang lebih aneh, ga biasa-biasanya aku bisa mengingat apa yang aku mimpiin dan mimpi-mimpi aneh itu juga terjadi secara berturut-turut. Beberapa dari mimpi itu kayak de javu buat gua, yang beberapa hari kemudian (setelah bermimpi), jadi kenyataan. Nitemare sih ga. Tapi aneh ajah. Kejadian itu terjadi di gua, ato temen ato sahabat, bahkan orang-orang di sekitar gua. Jadi agak-agak serem juga, akhirnya. Ga tau, apa maksud itu semua..
Ga tau sampai kapan mimpi-mimpi yang aneh itu berhenti...

Sahabat Sejati

Sahabat sejati adalah orang yang mau mendengar
dan mengerti ketika kau mengungkapkan perasaanmu
yang paling mendalam.
Ia mendukung ketika kau tengah berjuang.
Ia menegur penuh kelembutan ketika kau berbuat salah
dan memaafkan ketika engkau gagal..

(Richard Exley)